Satu Sevent Report of The Joint National

Satu dari lima orang dewasa di seluruh
dunia menderita hipertensi, sebuah kondisi yang menyebabkan sekitar setengah
dari semua kematian akibat stroke dan penyakit jantung. Hipertensi adalah
faktor risiko utama penyakit kardiovaskular yang menjadi penyebab utama
kematian secara global yang menewaskan 17,5 juta orang per tahun (WHO, 2016). Prevalensi
hipertensi meningkat di seluruh dunia dari 25% di tahun 2000 sampai diproyeksikan
menjadi 40% pada tahun 2025 (WHO, 2015). World Health
Organization (WHO) memperkirakan
hipertensi menyebabkan 45% dari beban penyakit secara global. Penyakit ini bertanggung jawab terhadap
tingginya biaya pengobatan dikarenakan tingginya angka kunjungan ke dokter,
perawatan di fasilitas kesehatan seperti rumah sakit, dan penggunaan obat
jangka panjang (Depkes RI, 2006).

Sheps, S.G mengungkapkan hipertensi ditandai dengan adanya
gangguan pada tekanan darah sistolik maupun diastolik yang berada di atas
tekanan darah normal. Tekanan darah sistolik tercapai ketika jantung
berkontraksi dan memompakan darah keluar melalui arteri, sedangkan tekanan
darah diastolik diambil saat jantung rileks dan mengisi darah kembali
(Masriadi, 2016). Peningkatan
tekanan darah ini
yang gejalanya dapat
berlanjut ke suatu organ target seperti otak (stroke), pembuluh darah
jantung (penyakit jantung koroner), serta otot jantung (hipertrofi ventrikel
kanan) (Bustan,
2007).

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

The Sevent
Report of The Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation,
and Treatment of High Blood Preassure (JNC VII)
mengklasifikasikan tekanan darah pada seseorang (umur > 18 tahun)
berdasarkan empat kategori, yaitu normal, prehipertensi, hipertensi tingkat 1,
dan hipertensi tingkat 2. Tekanan darah seseorang normal jika tekanan darah
sistolik (TDS) 0,05)
yang berarti tidak terdapat hubungan obesitas dengan tekanan darah. Untuk aktivitas
fisik juga didapatkan hasil analisis Kendall’s Tau dengan nilai p
value sebesar 0,651 (p>0,05) ini berarti juga tidak terdapat
hubungan antara aktivitas fisik dengan tekanan darah pasien hipertensi di Puskesmas
Kotagede I Yogyakarta (Julianti dkk, 2015).

Berdasarkan hasil survey Riset Kesehatan
Dasar pada tahun 2013, Indonesia memiliki
prevalensi hipertensi sebesar 26,5%
dan Provinsi Jambi memiliki prevalensi hipertensi sebesar 24,6%,
disebutkan bahwa dalam survey tersebut prevalensi hipertensi di perkotaan
lebih tinggi dibandingkan di perdesaan (Riskesdas, 2013). Ini dialami juga oleh
Provinsi Jambi, berdasarkan data dari profil Dinas Kesehatan Provinsi Jambi,
Kota Jambi memiliki jumlah kasus hipertensi tertinggi yaitu sebanyak 26.627
kasus, diikuti oleh Muaro Jambi dengan 10.911 kasus (Dinkes Prov.Jambi, 2015).
Pada 10 penyakit terbesar di Kota Jambi tahun 2016, hipertensi esensial
menempati urutan kedua setelah nasopharingitis akut dengan jumlah kasus sebesar
36.649 dan persentase 10,30% (Dinkes Kota Jambi, 2016).

Tabel 1.1
Prevalensi Hipertensi di Puskesmas Kota Jambi

Tahun 2015
– 2016

No

Puskesmas

2015

2016

? Penduduk

? Kasus

PR

? Penduduk

? Kasus

PR

1

Aurduri

17970

1731

9,63

25127

1648

6,56

2

Kenali Besar

50116

1055

2,11

61804

1217

1,97

3

Kebun Handil

41075

1547

3,77

37311

1900

5,09

4

Kebun Kopi

24083

683

2,84

11260

584

5,19

5

Koni

15842

705

4,45

19355

1691

8,74

6

Olak Kemang

14995

3500

23,34

15894

3605

22,68

7

Payo Selincah

25798

1262

4,89

46790

1262

2,70

8

Paal V

21431

1254

5,85

57317

774

1,35

9

Paal X

32715

1266

3,87

34712

1492

4,30

10

Paal Merah I

29443

322

1,09

14868

379

2,55

11

Paal Merah II

25488

676

2,65

21985

985

4,48

12

Pakuan Baru

38018

2115

5,56

29078

1959

6,74

13

Putri Ayu

54376

3760

6,91

70841

2490

3,51

14

Rawasari

86049

3154

3,67

54976

4846

8,81

15

Simpang Kawat

36814

1480

4,02

33249

1664

5,00

16

Simp. IV Sipin

47951

3631

7,57

49475

3096

6,26

17

Tahtul Yaman

16637

1268

7,62

16825

1575

9,36

18

Tanjung Pinang

44689

1546

3,46

52028

1638

3,15

19

Talang Bakung

50927

2554

5,02

28183

2505

8,89

20

Talang Banjar

28534

1405

4,92

38615

1339

3,47

Sumber:
BPS Kota Jambi, 2017; Dinas Kesehatan Kota Jambi, 2017

Diantara 20 puskesmas di Kota Jambi, Puskesmas
Rawasari masuk ke dalam 5 besar puskesmas yang memiliki prevalensi hipertensi tertinggi
pada tahun 2016 dengan 8,81%. Selain itu, Puskesmas Rawasari juga mengalami
peningkatan prevalensi yang sangat signifikan yaitu sebesar 5,15% dari 3,67% di
tahun 2015 menjadi 8,81% di tahun 2016. Ini menjadikan Puskesmas Rawasari
berada di peringkat 1 untuk peningkatan prevalensi di bandingkan puskesmas lain
di Kota Jambi.

Berdasarkan Profil Puskesmas Rawasari Kota
Jambi, hipertensi esensial berada di urutan kedua dalam sepuluh penyakit
terbesar pada tahun 2015 dan 2016 yaitu sebesar 3.604 dan 4.846 kasus (Profil
Puskesmas Rawasari, 2015 – 2016). Dilihat dari geografis, wilayah kerja
Puskesmas Rawasari terletak di pusat kota dan sangat dekat dari salah satu
supermarket terbesar di Kota Jambi. Mobilisasi untuk pergi ke tempat-tempat
umum seperti pusat perbelanjaan, perkantoran, atau tempat rekreasi sangat
mudah, didukung oleh transportasi yang mumpuni, sehingga aktivitas berjalan
kaki atau bersepeda sangat minim dilakukan masyarakat di wilayah kerja
Puskesmas Rawasari. Didukung pula oleh banyaknya tempat-tempat makanan cepat
saji atau restauran yang tersedia di dekat wilayah kerja Puskesmas Rawasari
Kota Jambi yang dapat menyebabkan masyarakat menjadi gemuk bahkan obesitas. Hal-hal
ini dimungkinkan menjadi faktor risiko atau alasan tingginya angka hipertensi
di wilayah ini, dikarenakan gaya hidup masyarakat yang mengadopsi modernisme.

x

Hi!
I'm Dana!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out